SEO BLOG & TEMPLATES
Akidah, Celoteh Muslim, Nasihat Muslim, News, Pemerintah, Penjelasan, Politik, Ulama
Jakarta Mediasangmuslim.com - Mengungkap Fakta Di balik Politik,Banyak di antara Para Ulama Dan Ustad yang sudah tergadaikan Dengan Dunia,ada yang bermain Politik dan menjatuhkan sebagian Golongan demi melindungi sebagian yang lain,ada pula yang bahu membahu dalam keadaan yang munkar,Allah swt pun telah Menjawab Kejadian ini dalam surat (QS. At-Taubah: Ayat 1) .
Allah SWT berfirman:
بَرَآءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۤ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدتُّمْ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ
"(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)."
(QS. At-Taubah: Ayat 1)
Allah SWT berfirman:
اِشْتَرَوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِهٖ ؕ اِنَّهُمْ سَآءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Mereka memperjual belikan ayat-ayat Allah dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang mereka kerjakan."
(QS. At-Taubah: Ayat 9)
Para Ulama saling mengeluarkan argumen argumen untuk pembelaan mereka,dengan membawa ayat-ayat dan Tafsiran mereka untuk membenarkan hal tersebut,Namun tahu kah kalian bahwa Allah swt,Telah Berfirman dalam surat QS. At-Taubah: Ayat 9.
aqidah, islam, Nasihat Muslim, SYARIAT
Mediasangmuslim.com Jakarta - Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama
Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.
Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang.
Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan.
Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.
Aqidah Secara Syara’
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk.
Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.
Syari’at terbagi menjadi dua:
i’tiqadiyah dan amaliyah
I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqad terhadap rukun-rukun iman yang lain.
Hal ini disebut ashliyah (pokok agama).
(1).Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah.
Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia dibangun di atas i’tiqadiyah.
Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.
Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Az-Zumar: 65)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).”
(Az-Zumar: 2-3)
Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik.
Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelurusan aqidah.
Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.
Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …”
(An-Nahl: 36)
Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.”
(Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)
Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul.
Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain.
(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.
Ajaran, Fakta, Nasihat Muslim
sangat penting karena mencakup kehidupan sehari2
CARA MAKAN & MINUM RASULULLAH SAW
“Sesungguhnya Nabi saw menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari`Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan,dari Sa’id bin Ibrahim, dari salah seorang anak Ka’ab bin Malik, yang bersumber dari bapak nya.)
• Nama Ibnul Ka’ab bin Malik (putera Ka’ab bin Malik r.a.) di sini tidak dijelaskan,sedangkan Ka’ab mempunyai anak dua orang,yaitu`Abdullah dan`Abdurrahman. Namun demikian keduanya punya tsiqat (dapat diterima periwayatannya),dan keduanya merupakan tabi’in besar.
“Bila Nabi saw selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga.”(Diriwayatkan oleh al Hasan bin `Ali al Khilali, dari `Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)
• Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.
JENIS ROTI YANG DIMAKAN OLEH RASULULLAH SAW
“Keluarga Nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw wafat.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
• Sya’ir,khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.
• Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.”Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari’Abdullah bin `Amr –Abu Ma’mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)
LAUK PAUK YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW
“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
Abdullah bin `Abdurrahman berkata : “Saus yang paling enak adalah cuka.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin`Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan,dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)
• Abi Usaid adalah `Abdullah bin Tsabit az Zarqi.
“Nabi saw menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja’far, dan diriwayatkan pula oleh Abdurrahman bin Mahdi,keduanya menerima dari Syu’bah, dari Qatadahyang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
“Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari Abu Usamah, dari Hisyam bin `Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Nabi saw diberi makan daging, maka diambilakan baginya bagian dzir’an.Bagian dzir’an kesukaannya. Maka Rasulullah saw Mencicipi sebagian daripadanya. “(Diriwayatkan oleh Washil bin `Abdul A’la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar’ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
• Dzir’an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.
“Daging yang paling baik adalah punggung.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis’ar, dari Syaikhan, dari Fahm,yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)
• Namanya adalah Muhammad bin `Abdullah, disebut pula Muhammad bin `Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.
BUAH-BUAHAN YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW
“Nabi saw memakan qitsa dengan kurma (yang baru masak).”(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)
• Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) “Sesungguhnya Nabi saw memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”(Diriwayatkan oleh Ubadah bin `Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam,dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
DO’A RASULULLAH SAW. SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN
“Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw, maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan.” Abu Ayub bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?” Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai’ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad bin Jandal al Yafi’I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.)
“Rasulullah saw bersabda : “bila salah seorang dari kalian makan,tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu,maka hendaklah ia membaca :”Bismillahi awwalahu wa akhirahu.” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al Aqili, dari `Abdullah bin `Ubaid bin `Umair, dari Ummu Kultsum, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
• Ummu Kultsum binti `Uqbah bin Abi Mu’ith al Umawiyah, adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. dan ia merupakan saudara seibu `Utsman bin Affan r.a.”Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : “Alhamdulillahil ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin.” (Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam)(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri,dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma’il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin `Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa’id al khudri r.a.)
“Adapun Rasulullah saw, bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya,maka beliau membaca :”Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda’iw wa la mustaghnan `anhu Rabbana.” (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya,ya Allah Rabbal `Alamin) (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa’id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.)
CARA MINUM RASULULLAH
“Sesungguhnya Rasulullah saw minum air zamzam sambil berdiri. “(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya,dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)
“Sesungguhnya Rasulullah saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda : “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad,keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
MINUMAN RASULULLAH SAW
“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah,yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
TEMPAT MINUM RASULULLAH SAW
Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit dengan besi”. kemudian anas r.a.menerangkan : “Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw.”(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari `Amr bin Muhammad, dari `Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.)
“Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz, madu ataupun susu.”(Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman,dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
• Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Celoteh Muslimah, Nasihat Kehidupan, Nasihat Muslim, News, Tausiah
Dari Ust. Felix Siaw, Sang Mu'allaf.
banyak Muslim tapi sedikit yang ter-install Islam didalamnya
banyak yang ngaku Tuhannya Allah tapi menolak diatur Allah
KTPnya sih Muslim, tapi kata-katanya "semua agama itu sama" | bila semua agama itu sama, saya nggak perlu repot memeluk Islam
katanya sih Muslim tapi giliran dibacain ayat dan hadits | dia protes "nggak usah terlalu fanatik lah! Indonesia bukan cuma Islam!"
Muslim itu mesti berani sampaikan apa yang Muhammad saw yakini | bahwa Islam itu tertinggi dan tiada yang lebih tinggi selain Islam
"Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama (Islam) yang benar" (QS 61:9)
"agar Dia (Allah) memenangkannya (Islam) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci" (QS 61:9)
jadi Muslim kok minder | bangga dong punya Islam
Islam itu makin banyak dipelajari makin membuat orangnya tawadhu | tapi belajar liberal dikit aja sudah bikin angkuh nggak ketulungan -_-
merasa lebih tau dari ayat Allah lalu bilang "itu kan tekstual" | merasa lebih pinter dari Muhammad lalu bilang "itu kan zaman dulu"
syahadat itu artinya meniadakan selain Allah lalu mengakui Allah | bahwa selain Allah itu #Nothing dan #NggakPenting
jadi selain yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an dan perintahkan pada manusia | itu #Nothing dan #NggakPentingjadi
saya sudah pengalaman jadi tukang sinis pada Islam | alhamdulillah Allah beri jalan kebaikan jalan perubahan
saya bersyukur bisa mengenal Islam dan jadi Muslim | bisa berubah dari pembenci Islam jadi -insyaAllah- pembela Islam
kita doakan aja yang masih sinis pada Islam justri jatuh cinta pada Islam | layaknya Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid
bagi Allah tiada yang mustahil | tugas kita hanya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik | selesailah tanggung jawab kita
sama seperti penolakan kita terhadap #MissWorld sebagai kampanye penolakan terhadap #PerangPemikiran | yang penting dakwah sudah tunai
dapun semua hasilnya itu urusan lain | proses dakwah bukan membalik telapak tangan | ummat masih perlu banyak di-edukasi :D
Rasul mengharap pada Makkah namun pertolongan datang dari Madinah | yang kita yakini sama, darimanapun itu, pertolongan Allah pasti datang
tugas kita kini berbisik mesra dengan ukhuwah | agar turun pada kita kecintaan dari Allah
meminimalkan dosa lalu bersemangat berdakwah | karena dakwah ini masalah siapa yang bertahan lebih lama
akan datang masa dimana Allah menolong ummat ini | dengan mengubah para pembenci Islam menjadi penolong agama ini | jangan bosan berdakwah
dakwah itulah sarana hidayah | yang sinis jadi suka | yang benci jadi sayang | semua diawali karena dakwah
yes I am a #Muslim | and very proud of #Islam
Akidah, Celoteh Muslim, Nasihat Muslim, News, tassawuf
KITAB BABUL IHSAN
#di dalam laku tassawuf amalan ada tahap tingkatan nya
Penggolongan tingkat-tingkat amal seseorang, yaitu tingkat pertama sampai ke empat. Secara tauhid, kita kupas seperti ini.
1.muftadi, orang yang beramal dengan i`tikadlillahi ta'ala [karena atau kepada Allah]. Orang ini masih berkutat dalam masalah kelengkapan syarat dan rukun untuk menghadapi Allah. Masih bersifat dari dirinya kepada Allah.
2.mubtadi, orang yang beramal dengan i`tikadminallahi ta`ala [dari Allah]. Orang ini memandang dari Allah-lah sehingga dirinya bisaberamal ibadah.Masih bersifat dari Allah kepada dirinya.
3.mutawasit, orang yang beramal dengan i`tikad billahi ta`ala [dengan Allah]. Orang ini memandang dengan Allah-lah sehingga dirinya bisa beramal ibadah. Masih besertaan dirinya dengan Allah.
4.muntahi, orang yang beramal dengan i`tikadlillahi ta`ala, minallahi ta`ala,dan billahi ta`ala sekaligus. Dipandangnya semua sehingga tidak dipandangnya dirinya ada, yang ada sudah Perbuatan, Kelakuan, Asma, dan Zat Allah semata.Tiada merasa ada diri lagi, sudah semuanya Allah semata.
(Semoga bermanfaat)
Salam Dakwah Subuh...
Ahlaq, AKHLAK, Celoteh Muslim, Nasihat Kehidupan, Nasihat Muslim
wajah hanya akan
mempesonakanmu dalam
hitungan waktu,tapi kecantikan/ ketampanan
HATI dan AKHLAK akan
mempesonakan keanggunanmu
selamanya..
.
Semoga wanita/laki2 yang membaca tulisan ini, dialah wanita/laki2 yang memiliki kecantikan hati dan akhlaq.
Aamiin..
.
Wanita shalehah tak banyak menuntut banyak dari pria yang dicintainya, kecuali rasa aman.
Lelaki sholeh tak banyak
meminta dari wanita yang dicintainya, kecuali pengertian.
.
Benar memang, harta itu salah satu hal yang sangat penting dalam hidup berumah tangga,
mengingat kebutuhan harus dibeli dengan uang.
Tapi itu saja tidak menjamin keluarga harmonis jika tanpa
ketulusan cinta,kesetiaan,kenyamanan dan kerjasama yang baik demi terciptanya keluarga yang bahagia.
.
Semoga Allah menjadikan
keluarga kita kelak menjadi keluarga sakinah, mawadah warahmah.
.
Aamiin Allahumma Aamiin..
Kecantikan/ketampanan wajah hanya
Celoteh Muslim, Celoteh News, Nasihat Muslim, News
Hari ini Jakarta serasa sangat berbeda
Sudah berulang aku datang ke kota ini
Tapi hari ini serasa berbeda..
Saat landing di Soeta...
ruh ini bergeliat beda...
serasa ada getaran yang beda...
Demi Allah aku merasakan aura Jihad...
Takbir terus terasa bergema dalam renung hatiku...
Dukungan dan doa yang semuka banyak titipkan para ikhwan di Medan...
di awali dengan pertanyaan "Ustadz berangkat?" Dan saya jawab selalu "InshaAllah", aku tetap merasa tidak ada yang istimewa dalam gelora hatiku
Teman yang mengantar saya ke bandara bertanya, "apa sudah siap dengan semua resiko ustadz?"
Dengan senyum saya nenjawab, "lantas untuk apa saya berjalan sekarang?"
Tapi...
Kini ruhku bergeliat, aku tidak mengatakan bergemuruh,...
seperti bayi yang sedang melakukan peregangan setelah lama tertidur, itulah yang kurasakan....
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok...
hanya aku berharap pada Allah...
jika ini bagian dari Jihad..
aku bersaksi aku merasakan kenyamanan di hati...
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok...
Aku meyakini bahwa gelombang ini sudah bergerak...
bertemu dengan rombongan lain di bandara...
seraya bertemu dengan mujahid.
Aku tak tahu kenapa, Tapi Gerakan Rabi'ah, jihad Suriah, Palestina hadir dalam memorinya klip per klip....
Aku tak tahu apa yang terjadi besok...
Tapi aku meyakini bahwa Allah bersama kita...
apapun yang akan terjadi besok...
sejarah kita sudah dimulai...
sejarah para Pembela Kebenaran Islam, sejarah para mujahid yang tak dapat tertidur nyenyak saat agamanya dihina...
Sejarah kita sudah dimulai...
janganlah menahan gelombang ini...
Karena...
kalian akan terbenam hina...
Jika kalian benar berpihak pada yang benar...
inilah kami!!! Akan bersama kalian...
Jika kalian tidak bernyali menegakkan kebenaran....
maka Inilah kami di hadapan kalian!!!!!
____________
Rumah Dakwah As Sakinah
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Celoteh Muslimah, Celoteh News, Nasihat Kehidupan, Nasihat Muslim, Pemerintah, Politik
🍒🛍 WAHAI AHLUS SUNNAH ...
MARI MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMERINTAH MUSLIMIN
🔑 asy-Syaikh al-'Allamah 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah,
📚 "Termasuk nasehat : mendoakan kebaikan untuk pemerintah agar mendapatkan taufiq dan hidayah, kebaikan niat, amal, serta kebaikan teman-teman dekat. Karena di antara sebab-sebab kebaikan pemerintah sekaligus di antara sebab taufiq Allah kepadanya : dia punya menteri yang jujur dan menolongnya kepada kebaikan, mengingatkannya ketika lupa dan membantunya ketika ingat. Ini semua di antara sebab taufiq Allah kepadanya."
🌍 http://www.binbaz.org.sa/life-article/262/75
🍒 "Pemerintah lebih berhak untuk didoakan kebaikan. Karena kebaikan pemerintah berarti kebaikan umat.
Doa kebaikan untuk pemerintah merupakan salah satu doa yang terpenting dan nasehat terpenting. Semoga Allah memberi taufiq kepada al-Haq dan membantunya dalam menjalankannya. Semoga Allah jadikan baik teman-teman dekatnya. Semoga Allah jaga dari kejelekan dirinya dan kejelekan teman-teman duduknya.
🏔 Do'a untuk pemerintah agar mendapat taufiq, hidayah, kebaikan hati dan amal, dan teman-teman dekat yang baik merupakan perkara yang paling penting dan taqarrub yang paling utama.
📒 Telah diriwayatkan dari al-Imam Ahmad — rahimahullah — beliau mengatakan,
لو أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان
"Kalau seandainya aku tahu aku punya do'a yang pasti terkabulkan, niscaya aku tujukan untuk kebaikan pemerintah."
Hal itu juga diriwayatkan dari al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah
🌍 http://www.binbaz.org.sa/fatawa/1934
...................................................
⛱📂 Di antara Contoh Redaksi Do'a untuk Kebaikan Pemerintah Muslim :
🌷 اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم وفقهم لما فيه صلاحهم وصلاح الإسلام والمسلمين
"Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kami, Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kami. Ya Allah beri taufiq mereka kepada apa yang padanya terdapat kebaikan Islam dan muslimin."
🍋 اللهم أعنهم على القيام بمهامهم كما أمرتهم يا رب العالمين،
"Ya Allah tolonglah mereka untuk melaksanakan tugas-tugas mereka sebagaimana yang Engkau perintahkan wahai Rabbul Alamin."
🍊 اللهم أبعد عنهم بطانة السوء والمفسدين،
وقرب إليهم أهل الخير والناصحين يا رب العالمين
"Ya Allah jauhkanlah dari mereka teman-teman yang jelek dan para perusak. Dekatkanlah kepada orang-orang baik dan pemberi nasehat, wahai Rabbul Alamin."
🌷 اللهم أصلح ولاة أمور المسلمين في كل مكان
"Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kaum muslimin di semua tempat."
🍒 اللهم احفظ علينا أمننا واستقرارنا في ديارنا، اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا
"Ya Allah jagalah keamanan dan ketenangan kami di negeri kami. Ya Allah janganlah Engaku jadikan berkuasa kepada kami orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami, gara-gara dosa-dosa kami."
🛡 اللهم قنا شر الفتن ما ظهر منها وما بطن
"Ya Allah lindungilah kami dari kejelekan berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tidak tampak."
•••••••••••••••••••••
Celoteh Muslim, Celoteh News, Nasihat Muslim, News
FATWA-FATWA ULAMA SALAF TENTANG DEMONSTRASI
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Beliau pernah ditanya,
Apakah demonstrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita dalam rangka menentang penguasa dan pemerintah termasuk salah satu sarana dakwah?
Apakah orang yang meninggal dunia saat aksi demonstrasi dapat disebut sebagai mati syahid di jalan Allah?
Beliau menjawab : “Saya berpendapat ;
Demontrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita bukanlah sebuah solusi. Akan tetapi, demonstrasi hanya akan menjadi sebab munculnya fitnah, keburukan, kedzoliman dan pelanggaran bagi sebagian orang tanpa hak.
Namun, ada cara-cara yang sesuai syari’at Islam yaitu dengan mengirim surat, menasehati dan ajakan kepada kebaikan dengan menempuh langkah-langkah yang baik. Demikianlah yang ditempuh oleh para ulama’dan juga yang dilakukan para sahabat Nabi dan para pengikut mereka dengan baik.
Dengan cara mengirimkan surat atau berdialog secara langsung berhadapan dengan pihak pemimpin atau penguasa, tanpa menyebarluaskan di atas mimbar-mimbar atau tempat lain bahwa,”Pemerintah telah berbuat ini! Sehingga menjadi seperti itu!”.Wallahul musta’aan” __
Fatwa Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani
Di dalam Silsilah Hadits Dhaifah pada hadits tentang kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab dan keluarnya mereka bersama Nabi dalam dua barisan untuk melawan kaum musyrikin, Syaikh Al Albani menjelaskan, "Hadits di atas munkar”. Kemudian beliau menjelaskan ;
”Barangkali itu adalah sebabnya atau menjadi sebab sebagian saudara- saudara kita, para dai, berdalil tentang disyari’atkannya demonstrasi yang dikenal pada masa ini. Bahwa : “ demonstrasi termasuk cara berdakwah Nabi”.
Dan beberapa kelompok Islam masih berdalih dengannya. Mereka lupa bahwa demonstrasi termasuk kebiasaan dan metode orang-orang kafir”___
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Beliau pernah ditanya,
“Mengenai pemerintah yang berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan Allah. Kemudian pemerintah mengizinkan sebagian masyarakat untuk melakukan aksi demonstrasi, yang dinamakan ‘ishoomiyyah (memperoleh kedudukan dengan hasil usaha sendiri)! Disertai undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Lalu, Orang-orang tersebut melakukannya.
Apabila aksi mereka diingkari, mereka menjawab,”Kami tidak menentang pemerintah dan kami melakukannya dengan ketetapan pemerintah”.
Apakah hal ini diperbolehkan secara syari’at? Padahal ada pertentangan dengan dalil?
Beliau menjawab,
“Wajib bagimu untuk mengikuti Salaf! Apabila hal ini dilakukan oleh Salaf, maka pasti baik. Apabila tidak, pasti jelek. Tidak ada keraguan lagi jika demsontrasi itu jelek. Sebab, demonstrasi akan menghantarkan kepada kekacauan. Yang dilakukan oleh para demonstran maupun pihak lain.
Bahkan sering terjadi pelanggaran. Bisa saja pelanggaran terhadap kehormatan, harta maupun fisik orang. Karena dalam keadaan kacau/rusuh, orang seperti mabuk yang tidak mengetahui apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan!”____
Pembaca yang terhormat,
Demonstrasi seluruhnya buruk, Apakah diizinkan oleh pihak pemerintah maupun tidak, Jika ada sebagian pemerintah mengizinkan terselenggaranya aksi demosntrasi, maka hal itu hanyalah propaganda.
Misalnya dipulangkan ke hati, sungguh pemerintah manapun tidak akan menyukai bahkan sangat membenci. Namun, ia hanya berpura-pura saja.
Sebagaimana dia mengatakan,”Ini kan demokrasi!” Padahal demokrasi hanya akan membuka pintu kebebasan (tanpa aturan agama) bagi umat manusia. Hal ini bukanlah jalan Salaf!
Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi
Beliau mengatakan,
“Segala puji bagi Allah. Sungguh saya sering mengingatkan tentang (dampak negatif) demonstrasi di dalam khutbah hari raya maupun khutbah-khutbah jum’at”____
Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Beliau menjelaskan,
“Agama kita bukan agama yang kacau tanpa aturan, akan tetapi agama kita adalah agama yang mapan, teratur rap, dan mengajarkan ketenangan. Demonstrasi bukan termasuk amalan umat Islam. Kaum muslimin tidak mengenal demonstrasi!
Islam adalah agama yang mengajarkan ketenangan, kasih sayang, dan kestabilan. Di dalam Islam tidak ada ajaran kekacauan, kerusuhan maupun menimbulkan fitnah. Inilah agama Islam
Hak-hak masyarakat dapat diperoleh dengan permohonan dan cara-cara syar’i.Adapun demonstrasi hanya akan menyebabkan kerusakan harta. Maka, pekara yang demikian tidak boleh” ___
Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
Beliau pernah ditanya,
”Apakah juga termasuk dalam pengertian hadits tersebut ; seseorang yang melakukan demonstrasi untuk menentang kenaikan harga dan urusan dunia semisalnya? Apabila terjadi kedzoliman di sana?”
Beliau menjawab,
“Demonstrasi termasuk tindakan bodoh! Hal ini tidak dikenal (pada masa lalu oleh umat Islam). Demonstrasi adalah perkara yang baru saja muncul yang diadopsi kaum muslimin dari orang-orang kafir”___
Disusun oleh Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i
Referensi : Fatawa Al Ulama’ Fii Tahriimi Al Mudhoharaat.
Diterbitkan oleh Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi.
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Celoteh Muslimah, Nasihat Kehidupan, Nasihat Muslim, Nasihat Rumah Tangga, Nasihat Sang Muslim
Malaikat Maut Menangis Saat Mencabut Nyawa Wanita Ini...
Malaikat Maut pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita. Kisahnya yang mengharukan dicantumkan dalam Tadzkirah oleh Imam Qurthubi.
“Aku pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita,” kata Malaikat Maut. “Saat itu ia baru saja melahirkan di padang pasir. Aku menangis saat mencabut nyawanya karena mendengar bayi tersebut menangis dan tidak ada seorang pun ada di sana.”
Tanpa sepengetahuan Malaikat Maut, karena ia hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa, Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas menyelamatkan bayi itu dengan caranya hingga kemudian ia tumbuh besar dan menjadi seorang ulama yang dicintaiNya.
Dalam riwayat lainnya diceritakan kisah yang berbeda. Malaikat Maut ditugaskan mencabut nyawa seorang wanita yang tenggelam di sungai. Yang membuatnya menangis, wanita itu memiliki dua anak yang masih kecil. Kedua anak itu tidak ditakdirkan meninggal sehingga mereka selamat sampai ke tepian, bahkan Malaikat Maut ikut membantunya menepi.
Menyaksikan dua anak yang masih kecil tersebut, Malaikat Maut menangis karena ia harus mencabut nyawa ibunya. Mereka akan menjadi anak-anak sebatang kara.
Tahun demi tahun berlalu, dua anak itu akhirnya tumbuh dewasa. Dan dengan izin Allah, kedua anak itu sama-sama menjadi raja di dua daerah yang berbeda.
Kita tidak pernah tahu kapan Malaikat Maut akan datang mencabut nyawa. Satu yang pasti, tak akan ada yang mampu memajukan dan menunda kematian sesaatpun ketika Allah sudah menetapkan waktunya.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf: 34)
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus: 49)
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Munafiqun: 11)
Bahkan meskipun Malaikat Maut iba pun, hal itu takkan menunda kematian yang telah dijadwalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la.
Namun, kita juga tak boleh terlalu takut dengan masa depan anak-anak dan keturunan kita. Mereka hidup, tumbuh dan besar bukanlah karena kita tetapi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seperti kisah di atas, bahkan ditinggal oleh orangtuanya sekalipun, Allah yang akan menjaga mereka.
Yang justru perlu kita persiapkan dan lebih kita perhatikan adalah bekal kita menghadapi kematian.
Siapkah kita menghadapi alam barzakh. Siapkah kita menghadapi hari kebangkita. Siapkah kita menghadapi yaumul hisab saat seluruh amal kita dibuka di hadapan seluruh makhluk.
Sudahkah kita memikirkan, seandainya Malaikat Maut datang secara tiba-tiba kepada kita, di mana tempat tinggal kita nantinya; surga atau neraka?
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Nasihat Muslim, Nasihat Sang Muslim
MENGAPA KITA SERING "CAPEK" DI DUNIA INI...?
Beginilah al-Qur’an bertutur, membuat sebuah panduan yang berharga untuk setiap muslim, bahwa apa yang kita tuju menentukan cara kita untuk sampai kepadanya......
(1). URUSAN Berdzikir (Sholat), perintahnya adalah “Berlarilah!”
“Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka BERLARILAH kalian MENGINGAT Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jum’ah : 9)
(2). URUSAN Melakukan Kebaikan, perintahnya adalah “Berlombalah!”
“Maka BERLOMBA-LOMBALAH dalam berbuat KEBAIKAN.” (QS. Al-Baqarah : 148)
(3). URUSAN Meraih Ampunan, perintahnya adalah “Bersegeralah!”
“Dan BERSEGERALAH kamu menuju AMPUNAN dari Tuhanmu dan menuju SURGA…” (QS. Ali Imron : 133)
(4). URUSAN Menuju Allah, perintahnya adalah “Berlarilah dengan cepat!”
“Maka BERLARILAH kembali ta’at kepada ALLAH.” (QS. Adz-Dzaariyat : 50)
(5). TAPI... URUSAN Menjemput Rizki (Duniawi), perintahnya HANYALAH “Berjalanlah!”
“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka BERJALANLAH di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RIZKI-Nya.” (QS. Al-Mulk : 15)
Semestinya kita memahami, kapan kita perlu BERLARI, atau menambah kecepatan lari kita, atau bahkan CUKUP BERJALAN saja.
Jangan-jangan, selama ini kita merasa lelah, karena MALAH berlari mengejar dunia yang seharusnya CUKUP DENGAN BERJALAN..
Ya Allah, bimbinglah kami…!
Wallaahu a'lam bish shawwab..
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Celoteh Muslimah, Nasihat Muslim, Nasihat Sang Muslim
Bismillah..
Ya ALLAH…
Aku berdoa untuk seorang perempuan,
yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintai-MU lebih dari segala sesuatu.
Seorang perempuan yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang perempuan yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-MU.
Wajah cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menjadi seperti Engkau.
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia. Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang perempuan yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang perempuan yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah. Seorang yang mencintaiku bukan karena fisikku tetapi karena hatiku. Seorang perempuan yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang laki-laki ketika berada di sebelahnya.
Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimata-MU. Seorang perempuan yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya. Seorang perempuan yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya. Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Dan aku juga meminta Buatlah aku menjadi seorang laki-laki yang dapat membuat perempuan itu bangga. Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintai-MU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cinta-MU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berilah aku “tangan-MU” sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya. Berikanlah aku “mata-MU” sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku “mulut-MU” yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaan-MU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari. Berikanlah aku “bibir-MU” dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.
Dan bila mana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan “betapa besarnya ALLAH itu, karena Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.
AMIN....
twitter: @mediasangmuslim
Celoteh Motivasi, Celoteh Muslim, Celoteh Muslimah, Nasihat Muslim, Nasihat Sang Muslim
MARI BERGURU PADA AHLINYA
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Allah SWT menugaskan kenabian pada Ruh Agung, Muhammad SAW. Dialah, nabi penutup dan penunjuk dari jalan sesat. Allah SWT mengutus beliau untuk mengingatkan ruh-ruh yang lalai sehingga terbuka mata bashirah-nya dari lelap yang melalaikan. Maka, Nabi SAW pun mengajak mereka agar kembali dan bisa bertemu dengan Jamalullâh yang azali. Sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan (bashirah) yakin,’” (QS. Yusuf [12]: 108)
Nabi SAW juga bersabda, “Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikuti yang mana pun, kalian akan mendapat petunjuk.” (HR. Al-Qurthubi)
(Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah SWT dengan yakin, yang di dalam Al-Qur’an dibahasakan dengan bashirah) Bashirah adalah Inti Ruh yang terbuka bagi mata hati para aulia. Bashirah ini tidak akan terbuka bagi mereka yang hanya mendalami ilmu lahir saja. Untuk membukanya harus dengan ilmu Laduni Batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan firman Allah, “Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu (Laduni) dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahf [18]: 65).
Oleh sebab itu, orang yang ingin membuka Inti Ruhnya harus berguru pada ahli-hali bashirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang akan memberi petunjuk langsung dari Alam Lahut.
Wahai saudaraku! Perhatikanlah akan hal ini dan cepat-cepatlah memohon ampun pada Tuhan kalian dengan segera bertobat. Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 133)
Dan, masuklah pada ath-thariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhan kalian bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, sedang jalan hampir tertutup. Dan, sungguh sulit mencari teman yang dapat mengajak kembali ke Negeri Asal (Alam Lahut). Kita berada di bumi yang hina dan akan hancur ini, tidak hanya untuk berpangku tangan lalu makan, minum dan memenuhi hawa nafsu belaka. Nabi kalian selalu menunggu dan sangat khawatir memikirkan kalian. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Aku hingga pingsan karena mengkhawatirkan umatku yang hidup di akhir zaman.”
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Satu tarikan dari tarikan-tarikan Allah Al-Haq sebanding dengan ibadah seluruh jin dan manusia.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “Orang yang tidak punya rasa kasih sayang berarti hatinya tidak hidup.” Al-Junaid RA berkata, “Bila Allah menanamkan rasa kasih sayang di dalam batin manusia, maka akan muncul perasaan bahagia dan sedih.”
Allah SWT juga berfirman, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima Agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 22)
Getaran hati itu ada dua macam yaitu getaran hati jasmani dan getaran hati ruhani. Getaran hati jasmani adalah getaran hati yang didorong oleh hawa nafsu yang muncul dari kekuatan jasad, bukan dari tarikan kuat Ruhani. Contohnya, seperti riya’ (ingin diketahui orang) dan sum’ah (ingin dibesar-besarkan orang atau ingin terkenal). Ini semua hal yang batil karena keberadaannya masih berkisar pada diri. Getaran hati seperti ini tidak boleh diikuti.
Adapun getaran hati ruhani terjadi ketika kekuatan ruh bertambah karena tarikan (jadzbah) dari Allah SWT. Ini seperti bacaan Al-Quran dengan suara yang bagus atau puisi yang memiliki rima bagus atau berdzikir yang tembus sehingga jasad tidak mampu lagi bertahan dan tumbang. Gambaran seperti ini merupakan limpahan rahmat Allah SWT dan baik untuk diikuti.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar,
MEMAHAMI ISYARAT CINTA ILAHI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya. Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah. Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Wahai anak muda! Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles dan kau cintai adalah cinta yang semu, yang menyebabkanmu dikenai hukuman. Sebab, cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu. Itulah cinta orang-orang Shiddiq yang dipenuhi limpahan keruhaniaan. Mereka tidak mencintai dengan keimanan, tetapi dengan keyakinan dan kesaksian. Hijab mereka tersingkap dari mataharimu sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib. Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!”
-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
HAKIKAT AMALAN HATI DAN BADAN
Harist Al-Muhasibi rahimahullah mengatakan:
“Di antara sebaik-baik ibadah adalah hati yang diisi dengan rasa cinta kepada ketaatan. Jika hatimu telah dilimpahi oleh perasaan seperti itu maka anggota badan akan beramal sesuai dengan apa yang ia lihat dalam hati. Sebab, boleh jadi anggota badan sedang sibuk beribadah, sedangkan hati diam menganggur.”
“Lalu bagaimanakah bentuk ibadah hati di luar anggota badan? Bagaimana ibadah yang dilakukan hati akan mengalir menuju anggota badan?”
Beliau menjawab, “Yakni ketika hati menjadi wadah/tempat bagi kerisauan dan kesedihan, rasa papa dan sangat membutuhkan, penyesalan, tawadu’, dan keterdesakan menuju Allah, sikap tulus kepada-Nya dan cinta pada apa yang Allah cintai, serta benci kepada apa yang Allah benci.
Jika ia menyikapi Allah dengan keadaan hati semacam ini, maka anggota badan akan mengikuti gerak dan bangkit untuk melakukan ketaatan. Keadaan ini akan terwujud jika relung-relung hati telah diisi dengan dzikir kepada Allah dan ingatan terhadap hari Akhirat.
Di sisi lain, hendaknya hati juga diisi dengan mengenali nikmat-nikmat Allah, gembira bersama-Nya, senang beribadah kepada-Nya, rindu kepada-Nya, selalu senang bersyukur kepada-Nya, serta berharap kepada ampunan-Nya.
Jika hati menyikapi Allah dengan keadaan hati seperti ini, maka anggota badannya pun akan melakukan ibadah dan amal kebaikan. Anggota badan akan beramal disertai rasa senang, gembira dan nikmat.”
--Harist Al-Muhasibi dalam Adab An-Nufus
ISTIQAMAH MENURUT HASAN AL-BASHRI
Imam Hasan Al-Bashri r.a. mengatakan, “Sebagian orang enggan untuk mudawamah (konsisten dalam beramal dan mengerjakan secara kontinyu). Demi Allah, bukanlah seorang mukmin yang hanya beramal selama sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun. Tidak, demi Allah! Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian.”
Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman
RINDU KEPADA ALLAH DAN KETENANGAN JIWA
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali bercerita tentang kerinduan Ibrahim bin Adham kepada Allah SWT yang begitu dahsyat. Sebuah kerinduan yang sangat menggelisahkan jiwanya. Ibrahim begitu galau dan gelisah.
Ibrahim bin Adham bertutur, “Suatu hari aku berkata, “Wahai Rabb-ku. Jika Engkau pernah memberi salah seorang dari para pecinta-Mu sesuatu yang dapat menenangkan hatinya sebelum bertemu dengan-Mu, maka berikanlah juga itu padaku! Sungguh aku galau dan gelisah dibuatnya.”
Setelah itu, aku bermimpi berdiri di hadapan-Nya, Dia berfirman, “Wahai Ibrahim. Apakah engkau tidak malu meminta agar Aku memberimu sesuatu yang dapat menenangkan hatimu sebelum bertemu dengan Aku? Apakah orang yang tercekam rindu dapat tenang hatinya sebelum bertemu kekasihnya?”
Lalu, aku pun menjawab, “Wahai Rabb-ku. Kecintaanku kepada-Mu telah melambung tinggi hingga aku tak tahu bagaimana harus berkata. Ampunilah aku, ajarilah apa yang harus aku ucapkan.” Maka, Dia menjawab, “Ucapkanlah, Ya Allah...Relakanlah aku dengan ketentuan-Mu, sabarkanlah aku atas cobaan-Mu, dan berikanlah aku kesadaran untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.”
Jadi, menurut Imam Al-Ghazali, kerinduan seperti ini baru akan reda dan menemukan ketenangan nanti di akhirat kelak. Kerinduan ini hanya berakhir di akhirat melalui perjumpaan dan penyaksian langsung terhadap Allah Azza wa Jalla.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha, Ihya Ulumuddin
HATI BAGAIKAN CERMIN
Ibnu Atha’illah mengatakan:
“Hati bagaikan cermin, sedangkan nafsu seperti nafas. Cermin buram setiap kali kau bernafas padanya. Hati seorang fasik tak ubahnya seperti cermin milik lelaki tua renta yang tak lagi perhatian untuk membersihkan atau menggunakannya. Sebaliknya, hati yang mengenal Allah bagaikan cermin milik pengantin wanita. Setiap hari ia melihat cermin tersebut sehingga tetap bening dan mengkilat. Perhatian utama seseorang yang zuhud adalah bagaimana memperbanyak amal, sementara perhatian utama orang yang arif adalah bagaimana meluruskan keadaan jiwa. Hati adalah tempat tatapan Tuhan. Nabi SAW bersabda, ‘Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.’”
--Ibnu Atha’illah dalam Kitab Taj Al‘Arus
PERUMPAMAAN HATI MANUSIA
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.’ (HR Ahmad dan Al-Hakim) Betapa banyak manusia yang kadang-kadang hatinya menyatu dengan Allah, tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak yang menghabiskan malam dalam ketaatan kepada Allah, tetapi ketika matahari terbit, ia tak ingat lagi kepada-Nya. Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat, melainkan sebagian lensanya saja. Begitu juga dengan keadaan hati. Jadi, bagian hati yang memandang bukanlah bagian lahiriahnya yang berupa gumpalan daging, melainkan unsur lembut yang Allah letakkan di dalamnya. Unsur itulah yang bisa memandang dan menangkap.
Allah sengaja menempatkan hati bergantung kepada dada bagian kiri seperti ember. Jika dibebani oleh syahwat, maka ia akan bergerak dan kalau dibebani ketakwaan juga bergerak. Kadang-kadang lintasan nafsu atau syahwat yang lebih dominan, dan kadang-kadang lintasan takwa yang lebih dominan. Karena itulah kadang-kadang hati menyadari dan menerima karunia Allah dan kekuasaan-Nya. Kadang-kadang pada saat tertentu lintasan nafsu dapat dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu.
Tetapi, di saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan oleh lintasan nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati bagaikan atap rumah. Jika engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam. Seperti itulah api syahwat. Jika api syahwat berkobar dalam tubuh, maka asap-asap dosanya akan naik memenuhi hati dan menghitamkannya.”
--Ibnu Atha’illah dalam Taj Al‘Arus
APAKAH HATIMU BERGETAR MENDENGAR PANGGILAN ALLAH?
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Satu tarikan dari tarikan-tarikan Allah Al-Haq sebanding dengan ibadah seluruh jin dan manusia.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “Orang yang tidak punya rasa kasih sayang berarti hatinya tidak hidup.” Al-Junaid RA berkata, “Bila Allah menanamkan rasa kasih sayang di dalam batin manusia, maka akan muncul perasaan bahagia dan sedih.”
Allah SWT juga berfirman, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima Agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 22)
Getaran hati itu ada dua macam yaitu getaran hati jasmani dan getaran hati ruhani. Getaran hati jasmani adalah getaran hati yang didorong oleh hawa nafsu yang muncul dari kekuatan jasad, bukan dari tarikan kuat Ruhani. Contohnya, seperti riya’ (ingin diketahui orang) dan sum’ah (ingin dibesar-besarkan orang atau ingin terkenal). Ini semua hal yang batil karena keberadaannya masih berkisar pada diri. Getaran hati seperti ini tidak boleh diikuti.
Adapun getaran hati ruhani terjadi ketika kekuatan ruh bertambah karena tarikan (jadzbah) dari Allah SWT. Ini seperti bacaan Al-Quran dengan suara yang bagus atau puisi yang memiliki rima bagus atau berdzikir yang tembus sehingga jasad tidak mampu lagi bertahan dan tumbang. Gambaran seperti ini merupakan limpahan rahmat Allah SWT dan baik untuk diikuti.
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar
MEMAHAMI ISYARAT CINTA ILAHI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya. Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah. Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Wahai anak muda! Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles dan kau cintai adalah cinta yang semu, yang menyebabkanmu dikenai hukuman. Sebab, cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu. Itulah cinta orang-orang Shiddiq yang dipenuhi limpahan keruhaniaan. Mereka tidak mencintai dengan keimanan, tetapi dengan keyakinan dan kesaksian. Hijab mereka tersingkap dari mataharimu sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib. Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
BISIKAN JIWA (AL-KHATHIR) ORANG YANG WUSHUL
Sayyid Abu Bakar bin Syaikh Al-Saqqaf Ba Alawi bertanya, “Bagaimanakah hukum bisikan-bisikan yang melintas di hati orang yang washil (sudah sampai kepada Allah mendapat kedudukan di sisi Allah)? Apakah ia harus menolak bisikan-bisikan tersebut dan hanya bersandar kepada bisikan Allah, atau apa yang mesti ia lakukan?”
Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, menjawab: “Pemilik kedudukan (washil) itu berbeda-beda tingkatan mereka. Orang yang mencapai kedudukan ini memiliki dua keadaan. Pertama disebut al-jama’; Kedua disebut al-farq. Jika seseorang mengalami keadaan yang pertama, yaitu al-jama’, ia akan fana terhadap dirinya dan orang lain, ia akan asyik tenggelam bersama Tuhannya dengan seluruh raganya. Saat itu, tidak ada lagi bisikan-bisikan yang datang, yang ada hanya Allah, Dzat Yang Mahaada.
Seseorang yang sudah mencapai kedudukan ini berkata,“Jika pada diriku terdapat bisikan keinginan selain kepada-Mu, yang muncul karena kealpaanku, maka kuputuskan kemurtadan diriku.” Maksud dari “kemurtadan” di sini adalah ‘Aku tidak tenggelam dan hanyut di dalam diri-Mu. Berarti dia tak lagi di maqam ini.
Seseorang yang lain juga berkata, “Hatiku dipenuhi keinginan beragam lalu menyatu sejak mata keinginanku memandang-Mu.”
Adapun bisikan yang bermacam-macam itu muncul disebabkan oleh pikiran yang bercabang dan halangan yang banyak di dalam diri. Hal yang seperti ini tidak dialami oleh seseorang yang sudah wushul (sampai) kepada Allah, karena ia telah menyatukan pikiran dan kalbunya hanya kepada Allah semata. Keadaan ini diisyaratkan oleh Rasulullah SAW, “Aku memiliki satu waktu yang aku isi hanya bersama Tuhanku.”
Keadaan semacam ini amatlah jarang dialami oleh seseorang, saat itu terjadi maka akan tampak hal-hal yang mengagumkan dan menakjubkan. Keadaan ini pernah dialami oleh beberapa masyayikh (para syekh besar) di Irak selama 7 tahun lamanya, lalu ia tersadar sejenak sebelum akhirnya kembali tenggelam dalam keadaan ini selama 7 tahun berikutnya. Selama berada pada maqam ini, ia tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak shalat, akan tetapi tetap berdiri tegak di tanah lapang sambil menengadahkan pandangan matanya ke arah langit.
Kami juga pernah mendengar cerita tentang beberapa masyayikh di Mesir yang berwudhu lalu berbaring seraya berkata pada pendampingnya, “Jangan engkau bangunkan aku dari tidurku sampai aku sendiri yang akan bangun.” Ia pun tertidur hingga 17 tahun lamanya, lalu ia bangkit dari tidurnya dan shalat dengan wudhunya tersebut.
Para ‘arif billah merindukan keadaan al-jama’ ini. Sedangkan Allah SWT, karena rasa kasih sayang-Nya, memindahkan mereka dari keadaan ini. Agar mereka tetap dapat menjalankan kewajiban-kewajiban mereka dan terhindar dari rusaknya fisik dan hancurnya persendian mereka. Karena, anugerah Allah berupa ilmu dan hikmah, jika sudah menguat dan menguasai, tidak akan sanggup kekuatan fisik manusia menanggungnya. Bukankah Gunung Al-Thur terbakar dan menjadi debu ketika cahaya anugerah Allah bersinar di atasnya?
Tidak benar pengakuan sebagian orang yang telah dikuasai oleh setan yang menyatakan bahwa mereka telah mencapai maqam al-jama’ ini. Sehingga kita menyaksikan mereka meninggalkan ibadah dan melalaikan kewajiban-kewajiban agama seperti puasa dan shalat. Di samping itu, mereka juga memperturutkan syahwat dan keinginan nafsu mereka serta melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Seandainya mereka adalah para wali Allah, seperti pengakuan mereka, niscaya Allah akan memelihara mereka dari hal-hal tersebut. Dan, seandainya mereka benar-benar hanyut dalam kefanaannya dengan Allah, niscaya mereka akan lenyap dari selain diri-Nya.
Kami tidak akan memperpanjang pembicaraan, walaupun masalah ini adalah masalah yang sangat luas pembahasannya. Bahkan, banyak orang yang tergelincir pemahamannya saat membahas hal ini. Karena, ini termasuk masalah yang sangat rumit dan sulit dipahami oleh akal manusia, apalagi hanya dengan pikiran-pikiran belaka.
Mengenai keadaan farq, seseorang yang telah mencapai akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah dan penglihatan dengan pandangan inayah-Nya. Saat itulah, akan muncul bisikan Rabbani, yang disebut di kalangan sufi dengan istilah idzn (izin), dan bisikan malaikat, mereka menyebutnya sebagai ilham. Dan, mereka tidak melaksanakan bisikan-bisikan itu kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan hadis.
Adapun Al-khathir asy-syaaithani (bisikan setan), hal itu tidak ada pada diri mereka. Karena setan tidak sanggup mendekati hati orang yang sudah wushul (sampai) kepada Allah dan selalu disinari dengan cahaya makrifat kepada-Nya.
Bahkan, terkadang setan justru tunduk kepada orang-orang yang telah washil kepada Allah, seperti yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Rasul bersabda, “Aku juga mendapat (godaan) setan, namun Allah SWT menolongku atasnya, hingga ia menyerah dan tidak memerintah kecuali suatu kebaikan.”
Sedangkan mengenai al-khathir an-nafsani (bisikan nafsu), hal ini amat mustahil ada pada diri orang yang telah sampai (washul) kepada Allah. Karena jiwa orang yang wahsil, telah merasa tentram dan tenang bersama Allah, serta senantiasa dekat dan tunduk hanya kepada-Nya. Allah menyeru serta memanggilnya, hingga jiwa itu datang dan kembali kepada-Nya. Lalu, Allah memasukkannya ke dalam golongan hamba-hamba-Nya dan menempatkan mereka di dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dan hanya disedikan untuk hamba-hamba yang bertakwa.”
Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab An-Nafais Al‘Uluwiyyah fi Masail Ash-Shufiyyah.
KEDAHSYATAN SIKAP TAWAKAL
Tawakal merupakan perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW. Jika hal tersebut dilakukan dengan baik dan benar, insya Allah tidak akan menjadikan seorang hamba menjadi hina dan menderita. Sebab, tawakal tidak bukan hanya penunjukkan sikap kepasrahan yang tidak beralasan, tapi tawakal juga harus terlebih dahulu dan didahului dengan adanya usaha yang maksiman. Hilangnya usaha, berarti hilanglah hakekat dari makna tawakal itu.
Rasulullah SAW adalah pekerja keras, pemimpin yang sangat cerdas, pengusaha hebat dan panglima perang yang tangguh. Tapi, beliau selalu menggantungkan sikap tawakalnya hanya kepada Allah. Karena itu beliau selalu mengucapkan doa-doa mengenai rasa tawakalnya kepada Allah SWT:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ (رواه مسلم)
Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW senantiasa berdoa, ‘Ya Allah hanya kepada-Mulah aku menyerahkan diri, hanya kepada-Mulah aku beriman, hanya kepada-Mulah aku bertawakal, hanya kepada-Mulah aku bertaubat, hanya karena-Mulah aku (melawan musuh-musuh-Mu). Ya Allah aku berlindung dengan kemulyaan-Mu di mana tiada tuhan selain Engkau janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Maha Hidup dan tidak pernah mati, sendangkan jin dan manusia mati. (HR. Muslim)
Rasulullah SAW juga bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (رواه البخاري(
Dari Ibnu Abbas ra, “Hasbunallah wani’mal Wakil’ kalimat yang dibaca oleh Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke dalam ap, dan juga telah dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi oleh orang kafir, supaya takut kepada mereka ; ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan segala kekuatannya untuk menghancurkan kalian, maka takutlah kamu dan janganlah melawan, tapi orang-orang beriman bertambah imannya dan membaca, Hasbunallah wa ni’mal Wakil (cukuplah Allah yang mencukupi kami dan cukuplah Allah sebagai tempat kami bertawakal.” (HR. Bukhari)
Sikap tawakal yang dilakukan secara kuat dengan keyakinan dan keimanan yang hebat justru merupakan kekuatan mahadasyat. Kepasrahan kepada Allah adalah jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan, mengamankan, membahagiakan dan memenangkan. Alkisah. Pada saat perang Dzatur riqa’, ketika Rasulullah SAW sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di pohon. Tiba-tiba datang seorang musyrik yang mengambil pedang beliau sambil berkata, “Siapa yang dapat melindungimu dariku?” Namun dengan sangat tenang Rasulullah SAW menjawab, “ALLAH.” Setelah tiga kali bertanya, tiba-tiba pedang yang dipegangnya jatuh. Lalu Rasulullah SAW mengambil pedang tersebut seraya bertanya, “sekarang siapakah yang dapat melindungimu dariku?”
Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
عَنْ عَمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا (رواه الترمذي)
Dari Umar ra, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pastilah Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada seekor burung. Pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang. (HR. Tirmidzi)
Usaha dan doa adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Seseorang yang mengaku bertawakal, namun tanpa memiliki usaha apa pun maka dia sebenarnya telah berdusta pada dirinya sendiri. Sebagai seorang hamba, kita tetap memiliki kewajiban untuk berusaha dan berkerja, serta menggantungkan keputusan dan hasilnya pada Allah Yang Maha Berkehendak.
Rasulullah SAW juga bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه الترمذي)
Dari Anas bin Malik ra, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Renung-renungkanlah, Pikir-pikirkanlah!
BOLEH JADI, DOA ORANG ARIF PUN TAK DIKABULKAN
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Seorang yang Arif itu tidak dikabulkan setiap kali dia meminta (berdoa) kepada Tuhannya. Tidak dikabulkannya itu agar sang arif tersebut tidak dikalahkan oleh sifat pengharapan, yang dapat menyebabkan dia menjadi binasa karenanya. Sesungguhnya, tak ada satu pun derajat atau maqam yang tidak terdapat sifat takut (khauf) dan berharap (raja’) di dalamnya.
Kedua sifat tersebut seperti dua sayap burung, dan keimanan belum dianggap sempurna jika tanpa kedua sifat tersebut. Begitu pula maqam-maqam (dalam tasawuf). Namun, sikap khauf dan raja’ itu sesuai dengan situasi dan keadaan.
Seorang yang Arif itu adalah orang yang diberi kedekatan (oleh Allah) dan dia berusaha untuk mendekat. Adapun keadaan dan tingkatannya adalah dia tidak menginginkan sesuatu pun selain Allah SWT; tidak bersandar kepada selain-Nya dan tidak merasa tenang kepada selain Allah. Serta tidak mau bersenang-senang dengan selain-Nya. Dia hanya mencari terkabulkannya permintaan dan terpenuhinya janji selain yang dia alami dan yang sesuai dengan dirinya.
Maka, dalam keadaan tersebut, terdapat dua hal; Pertama, agar dia tidak dikalahkan oleh sifat berharap dalam dirinya dan tertipu dengan daya upaya Allah yang dapat menyebabkan dia binasa; Kedua, agar hamba tersebut tidak menyekutukan Tuhannya Azza wa Jalla dengan sesuatu pun selain-Nya. Karena, tidak seorang pun ma’sum di dunia ini, selain para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Jadi, Allah SWT tidak mengabulkan atau tidak menepati (permohonannya) agar dia tidak meminta seperti biasanya dan menginginkan sesuatu yang biasa terjadi, dan bukan pula karena sekadar mengikuti perintah-Nya. Sebab, dalam keadaan ini terdapat unsur syirik. Dan, syirik adalah dosa besar dalam semua keadaan, dalam semua rahasia maqam, dan dalam seluruh ajaran (para nabi) terdahulu.
Adapun, jika permohonan tersebut merupakan suatu perintah, maka hal tersebut adalah sesuatu yang dapat menambah kedekatan kepadanya, misalnya shalat, puasa dan selainnya dalam ibadah fardhu ataupun sunnah. Karena, pada keadaan ini, seorang hamba sebenarnya adalah seorang yang sedang mengikuti perintah-Nya (bukan mengikuti nafsunya).”
SABAR DAN SYUKUR SEBAGAI JALAN TAWAKAL
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Wahai anakku, hendaklah engkau mempelajari ilmu dan bersikap ikhlas sehingga engkau bersih dari perangkap dan tali kemunafikan. Carilah ilmu karena Allah Azza wa Jalla, bukan karena makhluk atau karena dunia. Dan, ciri pencari ilmu karena Allah adalah, engkau merasa takut kepada Allah ketika datang perintah dan larangan-Nya. Engkau merasa takut dan hina di hadapan-Nya. Lalu, bersikap rendah hati terhadap makhluk tanpa membutuhkannya. Tidak berambisi terhadap apa yang mereka miliki.
Dan, bersahabatlah di jalan Allah, dan bermusuhanlah di jalan Allah. Sebab, persahabatan bukan di jalan Allah adalah permusuhan. Keteguhan selain di jalan Allah adalah kehancuran. Serta, pemberian bukan di jalan-Nya akan terhalang. Rasulullah SAW bersabda, “Iman itu terdiri dari 2 bagian; satu bagian sabar dan satu bagian syukur.”
Jika engkau tidak bersabar atas siksaan dan tidak mensyukuri nikmat, berarti engkau bukan termasuk orang yang beriman. Di antara hakikat Islam adalah mau berserah diri kepada Allah.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menyediakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka,” (QS 65; 2-3)
Karena itu, berdoalah!
“Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan tawakal kepada-Mu, dengan ketaatan kepada-Mu, dengan mengingat-Mu, dengan menyesuaikan diri kepada-Mu dan dengan kekuatan tauhid kepada-Mu.”
-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Fath Ar-Rabbani
TAKWA DAN HAKIKAT DIRI MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pada pembukaan Surah An-Nisa dalam Tafsir Al-Jailani mengatakan:
“Sungguh! Tidaklah tersembunyi bagi para Ahli Tauhid yang merenungi bagaimana Keesaan Dzat dapat meluas menjangkau pelbagai lembaran entitas yang bersifat mumkin (tidak mutlak), fana` (tidak kekal), dan berbatas, bahwa al-Haqq jalla jalâluh wa 'amma nawâluh –sesuai dengan ketunggalan Zat-Nya selalu memanifestasi di setiap butir zarah yang ada di alam terkecil sekali pun, berdasarkan isti’dad (kesiapan) dan potensi pada alam untuk memansifestasikan semua sifat dan asma-Nya dalam kegaiban huwiyah (identitas kedirian)Nya.
Adapun manifestasi paling sempurna yang menghimpun semua jejak asma dan sifat-sifat Ilahiah secara detail tidak lain adalah Insan Kamil, Rasulullah SAW. Itulah sebabnya, Allah telah menciptakannya sesuai dengan citra-Nya, mengangkatnya menjadi khalifah di antara semua makhluk-Nya, memuliakannya di atas semua ciptaan-Nya, serta menganugerahinya berbagai kebaikan makrifat dan hakikat-Nya.
Zat Allah secara langsung mematangkannya, dan Dia pula yang memelihara dengan mengirimkan rasul-rasul serta menurunkan kitab-kitab suci-Nya agar darinya dapat termanifestasi segala kesempurnaan yang telah tersemat di dalam dirinya, yang merupakan manifestasi dari semua al-asmâ` al-husnâ dan ash-shifât al-ulyâ milik Allah. Sehingga ia layak bersemayam di martabah khilafah (sebagai khalifah Allah) dan niyabah (sebagai wakil Allah), serta menetap di tataran tauhid.
Itulah sebabnya Allah menyeru hamba-hamba-Nya sebagai nikmat bagi mereka agar mereka mau menerimanya, dan Allah berwasiat kepada mereka untuk bertakwa agar mereka menjadikan takwa sebagai pelindung dan lambang kehormatan.
Dengan nama Allah yang telah menunjukkan kepada orang yang Dia tunjuk sebagai khalifah, semua kesempurnaan-Nya sesuai dengan kekuasaan-Nya; Allah Maha Pengasih kepada sang khalifah dengan menghamparkan tingkatannya dan mewariskan martabah-nya; Allah Maha Penyayang kepadanya dengan memberinya petunjuk tentang tempat asalnya dan juga tempat kembalinya.
Allah SWT berfirman, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan Dia menciptakan darinya isterinya; dan Dia memperkembang-biakkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” (QS An-Nisa: 1)
Wahai sekalian manusia, yang melupakan tempat asal yang sejati dan tempat tinggal yang hakiki, disebabkan gemerlap dunia yang menghalangi pencapaian kepadanya, kalian harus berhati-hati terhadap godaan-godaannya, dan kalian harus menghindari khayalannya, agar kalian tidak terjatuh dari martabah kalian yang sejati dan dari tempat kalian yang hakiki.
Bertakwalah hindarilah (dunia) dan carilah perlindungan kepada Tuhan kalian yang telah memelihara kalian dengan pemeliharaan terbaik. Dia telah menciptakan kalian. Dialah yang pertama menampilkan atau mengadakan (menciptakan) kalian dari diri yang satu, yaitu martabah fa’al yang meliputi semua martabah al-kauniyah (kosmis) dan al-kiyaniyah (entitas). "Diri yang Satu" ini tidak lain adalah al-Marâtib al-Jâmi'ah al-Muhammadiyyah yang disebut dengan nama al'Aql al-Kulliy (Akal Universal) atau al-Qalam al-A'lâ (Pena Tertinggi), yang menyempurnakan batin dan aspek kegaiban kalian.
Dia menciptakan darinya melalui Perkawinan Simbolis (an-Nikâh al-Ma'nawiy) dan Pernikahan Hakiki (az-Zawâj al-Haqîqiy) yang terjadi antara berbagai sifat dan asma Ilahiah, isterinya, yaitu an-Nafs al-Kulliyyah (Jiwa Universal) yang siap menerima limpahan berbagai jejak yang muncul dari Awal yang Terpilih (al-Mabda` al-Mukhtâr) yang akan menggenapi aspek lahiriah dan penampakan kalian, sehingga manusia layak menjadi khalifah dan wakil Allah sesuai dengan lahir dan batin mereka;
Dan, setelah keduanya menjadi pasangan "suami-istri", Allah juga memperkembang-biakkan, menghamparkan dan menyebarkan dari keduanya juga dari "pernikahan" yang disebutkan tadi laki-laki yang banyak. Maksudnya, laki-laki berbagai fâ'il (subjek aktif) yang melimpahkan berbagai limpahan. Dan, “perempuan” sebagai qâbil (penerima pasif) yang menerima berbagai limpahan. Masing-masing dengan perbedaannya pada berbagai detail munâsabah (saling bergantung, saling membutuhkan dan saling mengasihi) yang muncul di antara tajaliyat al-hubbiyyah (tajalli cinta) sebagaimana yang dijelaskan oleh kitab-kitab suci dan para rasul.
Ketika Allah sang Pemilik (rabb) berbagai asma yang bermacam ragamnya sesuai dengan keragaman makhluk (marbûb) menyatakan dengan gamblang tentang ketuhanan-Nya yang mencakup semua sifat dan asma tanpa kerancuan sama sekali, untuk menegaskan perintah agar makhluk-Nya bertakwa, Dia pun berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah”, ini dimaksudkan agar kita berhati-hati dari segala yang dapat menyibukkan kita dari Allah subhânahu wa ta'âlâ, sebab Dia lebih dekat dengan kalian dibandingkan urat leher kalian sendiri.
Karena Dia yang kalian saling bertanya dan saling bersaing dengan-Nya. Kalian sering menduga-duga bahwa Dia jauh, disebabkan terlalu dekatnya Dia. Maka, peliharalah hubungan kekeluargaan yang lahir dari Perkawinan Simbolis dan Pernikahan Cinta sebagaimana yang telah dijelaskan-Nya. Sesungguhnya Allah yang Maha Meliputi kalian dan semua keadaan kalian. Sesungguhnya Allah terhadap kalian selalu mengawasi dan menjaga. Dia menjaga kalian dari segala yang tidak berguna bagi kalian jika kalian bertawajuh kepada-Nya dengan ikhlas.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani, terj. Tim Markaz Al-Jailani.
MENGHADAPI MUSIBAH DAN KESULITAN HIDUP
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Untuk mengatasi kendala yang disebabkan oleh musibah dan kesulitan hidup yang menimpa, cukup bagimu untuk bersabar. Bersabarlah dalam semua ikhwal kehidupan!
Pentingnya bersabar didorong oleh dua alasan:
Pertama, agar sampai kepada hakikat dan tujuan ibadah. Sebab, fondasi ibadah adalah kesabaran dan tahan terhadap berbagai kesulitan hidup. Siapa yang tak mampu bersabar, maka dia tidak akan sampai kepada hakikat dan tujuan ibadah. Sebab orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala pasti menghadapi berbagai kesukaran hidup, ujian dan musibah. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal:
1) Setiap bentuk ibadah dan ketaatan itu sendiri mengandung berbagai kesukaran. Tak ada ibadah yang dilakukan tanpa menekan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu selalu berusaha mencegah seseorang untuk beribadah dan taat kepada Allah.
2) Setelah mengerjakan kebaikan dengan susah payah, seorang hamba harus berhati-hati menjaganya, agar ibadahnya itu tidak rusak. Karena, istikamah dan menjaga amal ibadah itu lebih sukar daripada mengerjakan amal pada kali pertama.
3) Dunia ini tempat ujian, maka siapa saja yang berada di dalamnya pasti akan mendapat ujian dengan berbagai kesulitan dan musibah.
4) Orang-orang yang lebih memilih akhirat daripada dunia itu akan mengalami cobaan yang lebih parah dan lebih banyak. Semakin ia dekat kepada Allah, maka musibah dan ujian dunia akan lebih banyak dan lebih keras menerpanya. Sebagaimana sabda Rasul, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para ulama, kemudian orang yang terbaik dan kemudian orang yang terbaik di bawahnya.” Allah SWT berfirman, “Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian serta dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak, yang akan menyakitkan hati,”(QS Ali Imran: 186). Maka persiapkan diri kalian karena pasti kalian akan mengalami banyak ujian!
Kedua, karena di dalam kesabaran terkandung nilai kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya adalah keselamatan dan kesuksesan. Siapa yang bertakwa kepada Allah dengan penuh kesabaran, maka Dia akan menjadikan jalan keluar bagi hamba tersebut dari berbagai bentuk kesukaran yang menimpanya. Keuntungan lain yang diperoleh dari sikap sabar adalah ia akan lebih mudah untuk diterima menjadi pemimpin ataupun pembimbing di masyarakat luas.
Allah juga berfirman, “Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS Huud: 49) Allah berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yangmemberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabdar,” (QS As-Sajdah: 24)
Sesorang yang bersabar juga akan memperoleh kabar gembira, doa dan rahmat dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya: “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun/ sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 155-156)
Orang yang bersabar akan mendapat pujian khusus dari Allah, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Quran kepada Nabi Ayyub. Mereka yang bersabar juga akan sangat dicintai Allah Azza wa Jalla. “Allah mencintai orang-orang yang bersabar,” (QS Ali Imran: 146). Mereka akan hidup dalam kemuliaan yang besar di sisi Allah, mendapat pahala yang berlimpah, tak terbatas dan di luar yang dibayangkan oleh manusia.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dicukupkan pahala mereka tanpa batas, “ (QS Az-Zumar: 10)
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu bersabar! Setelah mengetahui kebaikan dan manfaat dari sabar ini, maka tanamkanlah kebaikan sabar itu dalam kalbumu! Cobalah dengan keras untuk bisa memiliki sifat mulia ini sehingga kalian menjadi orang yang sukses (beruntung). Semoga Allah SWT memberi kalian taufik.”
--Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidiin
HINDARI CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Syarat cinta adalah engkau mempunyai keinginan bersama Dzat Yang kaucintai. Lalu, engkau tak berpaling dari-Nya, baik karena dunia, akhirat ataupun makhluk. Kecintaan kepada Allah bukanlah sesuatu yang ringan sehingga bisa diklaim oleh setiap orang.
Betapa banyak orang yang mengklaim cinta kepada Allah, tetapi justru jauh dari-Nya? Begitu banyak orang yang tidak mengklaim cinta kepada Allah, tetapi justru ada di sisi-Nya?
Maka, janganlah meremehkan seorang Muslim pun, sebab berbagai rahasia Allah tersebar pada mereka. Bersikaplah tawadhu dan jangan bersikap takabur atas hamba-hamba Allah. Sadarilah kelalainmu! Sebab engkau tidak lain kecuali berada dalam kelalaian yang sangat parah; seolah-olah shirat benar-benar telah terperikan dan tergambarkan pada dirimu dan seolah-olah engkau telah melihat tempatmu di surga. Ini sebuah keterpedayaan yang sangat luar biasa.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
MARI BERSIHKAN CERMIN HATI KITA
"Kalbu yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik. Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat."
---Syekh Ibnu Atha'illah
Bagaimana mungkin hati ini dapat menampung cahaya Ilahi, jika hati yang kita diselubungi debu. Kita harus terus membersihkan cermin jiwa setiap saat dan berkaca pada diri sendiri.Dengan begitu, hati akan tetap terjaga dari noda dan dosa, serta siap menerima pancaran cahaya Ilahi.Mari bercermin setiap saat, agar kita tahu baik-buruk, indah-jelek, jauh-dekat, sesuai-tak sesuai diri kita. Semoga bermanfaat!
“Wahai Tuhan,bersihkanlah dariku seluruh kesalahanku dengan air dari salju dan hujan,sucikan kesalahan-kesalahan dari hatiku sebagaimana Engkau menyucikan kotoran dari kain putih,dan bebaskanlah aku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau telah menghilangkan timur dan barat.” (H.R.Bukhari)
SEBENARNYA KITA PEMBERANI ATAU PEMARAH?
Sahl ibn Mu‘adz meriwayatkan dari ayahnya bahwa Nabi saw. bersabda, “Siapa yang menahan marah, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan memujinya dan membanggakan orang itu di hadapan makhluk-makhluk di hari kiamat. Hingga akhirnya ia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang ingin dipersuntingnya.” (HR al-Tirmidzi dan Abu Dawud).
Alkisah. Ketika ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz hendak menyadarkan orang yang sedang mabuk, maka pemabuk itu justru menamparnya.
Pemabuk itu terus menamparnya, lalu beliau kembali ke rumahnya. Seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah karena orang itu telah menamparmu, lalu engkau meninggalkannya?” Beliau menjawab, “Karena orang itu telah membuatku marah. Saya khawatir, jika saya menyadarkannya, maka hal itu didasarkan karena kemarahanku kepadanya dan saya tidak suka memukul orang lain karena membela diri.”
Lukman berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, ada tiga hal yang hanya dapat diketahui dengan tiga hal lainnya. Pertama, seseorang tidak akan diketahui sebagai orang lemah lembut, kecuali saat menghadapi kemarahan. Kedua, seseorang tidak akan diketahui sebagai pemberani, kecuali saat berperang. Ketiga, seseorang tidak akan diketahui sebagai orang yang peduli kepada sesamanya, kecuali saat diminta bantuan oleh orang lain
NASEHAT BIJAK PENGHUNI LANGIT
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Di antara hamba-hamba Allah ada sedikit individu yang menghindari berteman dengan makhluk dan menemukan persahabatan yang akrab di tempat-tempat menyepi (khalawât). Mereka menikmati keakraban seperti itu dalam membaca Al-Quran dan membaca sabda-sabda Rasul SAW maka mereka lalu memiliki hati yang sangat akrab dengan makhluk dan dekat dengan mereka, dan dengan yang dengannya mereka melihat diri rendah mereka sendiri (nufûs) dan diri-diri rendah orang lain. Hati mereka sehat, sehingga tak sesuatu pun yang engkau kejar tersembunyi dari mereka. Mereka bisa berbicara tentang apa yang kalian pikirkan dan kalian rasakan, dan mereka bisa mengatakan kepada kalian mengenai situasi di rumah-rumah kalian.
Celakalah kalian! Gunakanlah akal sehat kalian! Janganlah kalian bersaing dengan manusia-manusia (pilihan Tuhan) dalam kejahilan kalian. Setelah kalian selesai dari (mengkaji) Al-Kitab, kalian akan bangun dan berbicara kepada orang banyak. Setelah hitamnya tinta mengenai pakaian dan badan kalian, dan setelah merenung dengan cermat, kalian akan berbicara kepada orang banyak. Ini adalah masalah yang menuntut kemampuan lahir dan kemampuan batin, kemudian kebebasan dari semua keterikatan.”
Wahai kalian yang begitu lalai akan apa yang dituntut dari kalian, ingatlah akan Kiamat Khusus (al-qiyâmat al-khâshshah) dan Kiamat Umum (al-qiyâmat al-ʽâmmah). Kiamat Khusus adalah kematian masing-masing kalian sebagai individu, sedangkan Kiamat Umum adalah kiamat yang telah dijanjikan Allah kepada semua makhluk-Nya. Kalian harus ingat dan merenungkan firman Allah: “Pada hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Tuhan) Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat; dan Kami akan menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga (QS Maryam (19):85-86).
Sunguh gerombolan yang kelelahan dan kehausan! Orang-orang yang bertakwa akan dikumpulkan, tetapi orang-orang yang durhaka dan berdosa akan digiring bagaikan gerombolan binatang ternak. Semoga Allah berbelas kasih kepada hamba-Nya yang mengingat hari itu, dan menjadikannya termasuk ke dalam kalangan orang-orang bertakwa bahkan sekarang ini, pada hari ini, sehingga dia bisa dikumpulkan bersama-sama dengan mereka manakala hari itu datang. Wahai kalian yang telah meninggalkan ketakwaan!
Pada Hari Kiamat nanti orang-orang yang bertakwa akan dikumpulkan kepada Yang Maha Pengasih sebagai rombongan yang baik, berkendara bersama para malaikat, sementara amal-amal baik mereka mengambil bentuk yang nampak di sekeliling mereka. Masing-masing dari mereka akan memiliki kuda berdarah murni (najîb) untuk dikendarainya, dan kuda itu adalah amalnya, sementara serbannya adalah ilmunya. Amal-amal perbuatan yang baik akan mengambil bentuk yang menarik, sementara amal yang buruk akan mengambil bentuk yang buruk.
Kunci kepada ketakwaan adalah tobat dan kesabaran dalam menjalaninya. Demikian juga, tobat adalah kunci kepada kedekatan dengan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.
Tobat adalah akar maupun cabang dari semua yang baik. Inilah sebabnya orang-orang yang saleh tidak pernah membiarkan diri mereka disimpangkan darinya dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Bertobatlah, wahai kalian yang selalu kembali kepada kejahatan, wahai para pembangkang yang berdosa! Berdamailah dengan Tuhanmu dengan cara bertobat.
Kalbu ini tidak berharga bagi Tuhan Yang Maha Benar selama ia masih berisi satu atom pun dari dunia ini dan kerinduan sedikit pun kepada makhluk. Karena itu jika kalian ingin menjadikannya sehat, kalian harus mengusir keluar keterikatan-keterikatan ini dari hati kalian. Ini tidak akan menimbulkan kerugian atau pun bahaya bagi kalian. Sebab, begitu kalian telah berkontak dengan-Nya, dunia ini dan sesama makhluk akan datang kepada kalian, sementara kalian berada bersama-Nya, di pintu-Nya. Ini adalah sesuatu yang telah diuji kebenarannya oleh pengalaman. Ini telah dialami sebagai fakta oleh mereka yang mengamalkan zuhud, meninggalkan dunia dan mencegah diri dari yang haram (az-zâhidîn at-târikûn al-mutawarriʽûn).”
Top 5 Popular of The Week
-
JILBAB BUKAN PRODUK BUDAYA... Kata jilbab bila ditinjau dari segi bahasa mengandung beberapa pengertian di antaranya, "Qamish yaitu pak...
-
MEMBUAT ORANG LAIN BAHAGIA Coba bayangkan jika kita bisa mengangkat kesulitan orang yang kesusahan … mengenyangkan yang lapar … melepaskan o...
-
SIFAT ALAMI PRIA... ? (WANITA harus BACA) ✓ Pria itu EGO nya tinggi.. Jadi jangan suka membanggakan laki2 lain di depannya.. Kerana dia ingi...
-
KITAB BABUL IHSAN #di dalam laku tassawuf amalan ada tahap tingkatan nya Penggolongan tingkat-tingkat amal seseorang, yaitu tingkat pertama ...
-
Assalamu'allaikum wr wb HIDUP DAN MATI ITU MILIK ALLAH. BUKAN MILIK MANUSIA . Hidup dan mati itu milik Allah. Bukan milik manusia. Manus...
-
Hadist-Hadist CINTA قال رسول الله ص. م. احبب حبيبك هونا ما عسي ان يكو ن بغيضك يوما ما وابغض بغيضك هونا ما عسي ان يكو ن حبيبك يوما ما (رواه ا...
-
UNTUK SESEORANG YANG ADA DI HATIKU Untuk seseorang yang Selalu ada di hatiku.. Maafkan aku.. Jika aku tak memberimu kabar,(karena arti mu su...
-
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh... 📜 * KITA TAHU, TAPI SAYANG …*❓ ✏ *Oleh: Ustadz Zainal Abidin*, ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟ...
-
LIMA KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN... Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bawasanya Rasulullah ...
-
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.... CARAKU MENJAGA CINTAKU.. Dengan tak menghubungimu, tak juga mengirim pesan untuk menanya...