,

    Pelajaran ke 4 Dakwah Muslim BerTauhid

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

    Tauhid Secara Etimologi dan Terminologi

    Kata Tauhid tentunya sering kita dengar, tapi sayang, ketika kita mendengar kata Tauhid tidak sedikitpun yang terdetik dihatinya untuk merinding. Padahal asal mula kata Tauhid berasal dari kitab yang sering kita pegang saat ini yakni Al Qur’an.
    Memahami dan mengamalkan Tauhid itu wajib bagi umat Muslim.

    Sebagian dari suatu kelompok ada yang memaknai tauhid tersebut adalah bagian dari jihad. Dari hal berikut berarti kata Tauhid ini memiliki macam-macam arti?. Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari artikel ini tentang bagaimana menegakkan Tauhid dalam jiwa, kemudian mengapa harus Tauhid? Untuk dapat paham usaha dan berdo’a, butuh dilakukkan. jadi satu kesatuan dan tidak boleh dipisahkan.

    Pola berfikir seperti (Usaha cari uang dulu yang banyak) baru dapat bisa tenang, pemikiran seperti itu salah, karena belum tentu umur kita sepanjang yang kita bayangkan. Dalam surat Ar-Ra’d dikatakan,“Alloh tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” jadikan esensi ayat tersebut bukan pada ruang lingkup yang sempit misal (harta,harta dan harta) akan tetapi haruslah universal.

    Arti Tauhid Secara Etimologi
    Dilihat dari kata Tauhid berasal dari kata wahhada, tawwahida, yuwahhidu, tauhida, baqiyah yang memiliki arti menjadikan sesuatu satu atau meng-Esakan. Jika dicermati di dalam bacaan Al Qur’an terdapat kata tawwahida (Bacaan ilmu fiqih Al Qur’an) lebih dari satu surat ialah (QS Al Anbiya 92 dan Al Mu’minun 52).

    Dalam sejarah ada yang di beri gelar dengan sebutan Bapak Tauhid dan ditetapkan oleh Alloh di dalam surat Az Zukhruf 28, bahwa Nabi Ibrahim lah yang menjadi Bapaknya tauhid.

    Semoga Memberikan pemahaman untuk kita semua,khususnya ana.

    yuk gabung bersama kami di media Dakwah Muslim BerTauhid Via WA:
    https://chat.whatsapp.com/79ojlN45X084rIoJ5aWcxG

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    , ,

    🍀 Hak Allah atas Hamba-Nya

    🍒 Dari shahabat Mu’adz bin Jabal radhiallah ‘anhu ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?”. Mu’adz menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui". Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    🍂 Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya adalah hendaklah mereka beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikit pun; dan hak hamba yang akan dipenuhi oleh Allah, adalah Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang tidak berbuat kesyirikan. 🍂 [HR Al-Bukhari dan Muslim]

    📒 Cara mengagungkan hak Allah?

    💦 Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafuzhahullah mengatakan:

    فمن حقق التوحيد فقد عظم حق الله، ومن أضاع التوحيد فقد أضاع حق الله

    “Siapa saja yang merealisasikan tauhid berarti telah mengagungkan hak Allah, dan siapa saja yang meremehkan tauhid berarti telah meremehkan hak Allah.” [Syarah Kasyfu Syubhat, hal. 15]

    📚 Keutamaan apa yang akan mereka dapat?

    ✨ Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa di antara keutamaan orang yang merealisasikan tauhid adalah terbebasnya ahli tauhid dari kekekalan siksa neraka, bisa jadi orang tersebut disiksa di neraka untuk menghapus dosa-dosanya, namun tidak selama-lamanya. Tetapi jika ahli tauhid mampu merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka niscaya Allah ta’ala akan menjaga dirinya dari siksa api neraka secara sempurna.[Al-Qaulus Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman As sa’diy, hal.57]

    _________
    📌 Kita sama-sama peduli dengan dakwah utama dan prioritas, yaitu tauhid dan aqidah. Anda bisa ikut aktif, caranya ketika mendapatkan share ini, share lagi ke sosial media yang anda punya dan seterusnya sehingga dakwah tauhid tersebar.

    📲 Daftar Broadcast "Dakwah Muslim Bertauhid"
    https://chat.whatsapp.com/79ojlN45X084rIoJ5aWcxG
    📢 Silakan disebarluaskan!

    ,

    Pelajaran Materi Ke 3
    Makna Tauhid

    Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: …
    Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
    Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
    Pembagian Tauhid
    Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.
    Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

    “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)
    Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:
    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
    “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)
    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
    “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)
    Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.
    Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)
    Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.
    Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dalilnya:
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)
    Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:
    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
    “Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘” (QS. An Nahl: 36)
    Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

    Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??
    Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
    وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
    “Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180)
    Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.
    Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.
    Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.
    Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.
    Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura: 11)
    Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

    ,

    #waspada selalu !
    #Jadilah
    #BENTENG TAUHID

    Allah SWT berfirman:

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَـنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ
    "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mentaati orang-orang yang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi orang yang rugi."
    (QS. Ali 'Imran: Ayat 149)

    Allah SWT berfirman:

    لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ
    "Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri."
    (QS. Ali 'Imran: Ayat 196)

    Allah SWT berfirman:

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا ۙ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
    (QS. Ali 'Imran: Ayat 200)

    Allah SWT berfirman:

    اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا
    "Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat,"
    (QS. At-Tariq: Ayat 15)

    Allah SWT berfirman:

    فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا
    "Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir. Berilah mereka kesempatan untuk sementara waktu."
    (QS. At-Tariq: Ayat 17)

    Allah SWT berfirman:

    مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا ؕ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ؕ وَ الَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ؕ وَمَكْرُ اُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُوْرُ
    "Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur."
    (QS. Fatir: Ayat 10)

    Allah SWT berfirman:

    اۨسْتِكْبَارًا فِى الْاَرْضِ وَمَكْرَ السَّيّیٴِ ؕ وَلَا يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّـئُ اِلَّا بِاَهْلِهٖ ؕ فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا سُنَّتَ الْاَوَّلِيْنَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَحْوِيْلًا
    "karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu."
    (QS. Fatir: Ayat 43)

    Allah SWT berfirman:

    وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ؕ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ؕ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
    "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah."
    (QS. Al-Baqarah: Ayat 120)

    ,

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Saudara ku seiman dan semuslim yang mencintai Allah Dan Rasulnya,Semoga di hari ini kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT,solawat beserta salam kita curahkan kehadiran nabi besara muhammad saw,dan para saudara dan sahabatnya,semoga kita semua selalu dalam kecintaan yang hakiki ya itu cinta terhadap Allah swt,Rasul-Rasulnya,Nabi-Nabinya,Para Walinya,Para Guru besar dan ulamanya,Tentunya Mencintai ISLAM sebagai Agama yang Lurus Dan Memegang Tauhid dan Sunah,Sangat Di sayangkan Aksi bela agama yang di hadiri kurang lebih 25 juta orang lebih Tidak menghasilkan apa apa,selain Tembakan Dan Berondongan Gas Air Mata,Aksi damai kemarin adalah salah satu bentuk Tauhid di dalam Keyakinan Umat Muslim.
    Isi Al-Qur’an Semuanya Tentang Tauhid
    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwasannya isi Al-Qur’an seluruhnya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi di dalam Al-Qur’an menjelaskan hal-hal berikut:

    Berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini termasuk tauhidul ‘ilmi al khabari (termasuk di dalamnya terdapat tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat). Seruan untuk beribadah hanyalah kepada Allah semata dan tiada yang mempersekutukan-Nya.

    Ini adalah tauhidul iraadi at thalabi (tauhid uluhiyah).
    Berisi perintah serta larangan dan keharusan untuk taat kepada perintah Alloh dan menjauhi semua larangan-Nya. Hal tersebut merupakan huquuqut tauhid wa mukammilatuhu (hak-hak tauhid dan penyempurna tauhid).
    Berita mengenai kemuliaan bagi orang yang bertauhid, tentang balasan-balasan kemuliaan di dunia dan balasan-balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk dalam jazaa’ut tauhid (balasan bagi ahli tauhid).
    Berita mengenai orang-orang yang musyrik, tentang balasan yang berupa siksa di dunia dan balasan atau azab di akhirat. Ini termasuk balasan terhadap orang yang menyelisihi hukum-hukum tauhid. Dengan demikian, Al-Qur’an seluruhnya mengandung tentang tauhid, hak-hak-Nya dan balasan-balasan-Nya.
    Selain itu juga berisi tentang kebalikannya dari tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang yang musyrik, dan balasan-balasan bagi mereka (Lihat Fathul Majid 19).
    Demikianlah secarik pembahasan yang megenai pembagian tauhid. Semoga Allah Ta’ala selalu meneguhkan kita di atas jalan tauhid untuk mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkannya.
    semoga Siapapun yang membela dan menjaga kemuliaan kita suci Al-Quran selalu dalam kebahagiaan dan kecintaan yang nyata,dan menjadi salah seorang ahli surga yang bersahabat dengan para wali allah,dan tempat nya berada di tempat yang Allah Janjikan Yaitu Surga.(Aamiin)

    ,

    Pelajaran Pertama
    Pentingnya mempelajari tauhid
    Banyak orang yang mengaku Islam.

    Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya.

    Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya.

    Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya,Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik,Wal’iyydzubillah, Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

    “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya,Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Alloh Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya”

    (Syarh Ushulil Iman, 4)

    Pengertian Tauhid dalam bahasa arab merupakan mashdar (kata suatu benda dari sebuah kata kerja) berasal dari kata wahhada. Apabila yang dimaksud wahhada syai’a berarti menjadikan sesuatu itu menjadi satu.

    Sedangkan menurut ilmu syariat mempunyai arti mengesakan terhadap Allah dalam sesuatu hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu yang berupa Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ Wa Shifat ( Al-Qaulul Mufiiid Syarh Kitabi At-Tauhid).

    Kata tauhid itu sendiri merupakan sebuah kata yang terdapat di dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana di dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Kamu akan datangi suatu kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu agar mereka mentauhidkan terhadap Allah”.

    Begitu pula dalam perkataan para sahabat Nabi, “Rasulullah membaca tahlil dengan tauhid”.

    Dalam pengucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang dilantunkan saat memulai ibadah haji. Dengan demikian kata-kata tauhid adalah kata syar’i dan juga terdapat di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh).
    Pembagian Tauhid di dalam Al Qur’an
    Pembagian yang sangat populer di kalangan para ulama adalah pembagian pemahaman tauhid menjadi tiga bagian, yaitu tauhid berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian tersebut terkumpul dalam firman atau sabda Allah di dalam Al Qur’an:

    رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

    “RABB (PENGUASA) LANGIT DAN BUMI SERTA SEGALA SESUATU YANG BERADA DI ANTARA KEDUANYA, MAKA SEMBAHLAH DIA DAN TEGUHKAN HATI DALAM BERIBADAH KEPADA-NYA. APAKAH KAMU TAHU BAHWA ADA SEORANG YANG SAMA DENGAN DIA (YANG BERHAK DISEMBAH)?” (MARYAM: 65).

    Perhatikan ayat di atas:

    Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb yang menguasai langit dan bumi) merupakan ketetapan tauhid rububiyah.
    Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia serta berteguh hatilah ketika dalam beribadah kepada-Nya) merupakan ketetapan tauhid uluhiyah.
    Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahuinya bahwa ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan ketetapan tauhid asma’ wa shifat.
    Berikut penjelasan ringkas tentang tiga macam tauhid tersebut: Tauhid rububiyah artinya adalah mengesakan Allah di dalam hal penciptaan, kepemilikan serta pengurusan. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini di dalam firman Allah:

    أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “INGATLAH, YANG MENCIPTAKAN DAN MEMERINTAHKAN HANYALAH HAK BAGI ALLAH” (AL- A’RAF: 54).

    Tauhid uluhiyah ataupun tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah dikarenakan penisbatanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan disebut tauhid ibadah dikarenakan penisbatannya kepada makhluknya atau hambanya. Adapun maksud tersebut ialah pengesaan Allah dalam hal ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah lah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

    ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

    ”DEMIKIANLAH, KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH, DIALAH YANG HAKIKI DAN SESUNGGUHNYA YANG MEREKA SERU SELAIN ALLAH ADALAH YANG BATIL” (LUQMAN: 30).

    Tauhid asma’ wa shifat. Maksud dari hal ini adalah pengesaan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama dan sifat-sifat yang jadi milik-Nya. Tauhid ini mewakili dua hal yaitu ketetapan dan kenafian, berarti kita harus menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah seperti halnya yang ditetapkan bagi diri-Nya.

    Dalam kitab-Nya maupun sunnah nabi-Nya, dan tidak membuat sesuatu yang sama dengan Allah terhadap nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat terhadap Allah tidak boleh melaksanakan ta’thil, tahrif, tamtsil, ataupun takyif. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

    ”TIDAK ADA SATUPUN YANG SERUPA DENGAN-NYA, DAN DIALAH YANG MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MELIHAT.” (ASY-SYUURA: 11).

    Sebagian dari ulama membagi tauhid menjadi dua  yaitu tauhid di dalam ma’rifat wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal qasd (tauhid dalam tujuan ibadah). Apabila dengan pembagian semacam ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat masuk dalam golongan yang pertama sedang tauhid uluhiyah termasuk golongan yang kedua (Lihat Fathul Majid 18).

    Pembagian tauhid dengan metode seperti di atas termasuk hasil penelitian dari para ulama terhadap semua dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga pembagian tersebut tidak termasuk bid’ah karena mempunyai landasan dalil yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Kaitan Antara Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah
    Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Tauhid rububiyah yaitu yang mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Artinya pengakuan seseorang kepada tauhid rububiyah yang mengharuskan pengakuannya kepada tauhid uluhiyah.

    Barangsiapa yang sudah mengetahui bahwasannya Allah adalah Tuhan yang menciptakannya dan mengatur semua urusannya, maka dia wajib beribadah hanya kepada Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sedang tauhid uluhiyah mengandung di dalamnya tauhid rububiyah.

    Artinya, tauhid rububiyah termasuk dalam bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang melaksanakan ibadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, pasti dia yakin bahwa Allahlah Tuhan dan penciptanya. Hal ini sama seperti halnya perkatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

    قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

    “IBRAHIM BERKATA: “MAKA APAKAH KAMU TELAH MEMPERHATIKAN APA YANG SELALU KAMU SEMBAH (75), KAMU DAN NENEK MOYANG KAMU YANG TERDAHULU? (76), KARENA SESUNGGUHNYA APA YANG KAMU SEMBAH ITU IALAH MUSUHKU, KECUALI TUHAN SEMESTA ALAM (77), (YAITU TUHAN) YANG TELAH MENCIPTAKAN AKU, MAKA DIALAH YANG MEMBERIKAN PETUNJUK KEPADAKU (78), DAN TUHANKU, YANG DIA MEMBERI MAKANAN DAN MINUMAN KEPADAKU (79), DAN APABILA AKU SEDANG SAKIT, DIALAH YANG DAPAT MENYEMBUHKANKU (80), DAN YANG AKAN MEMATIKAN AKU, KEMUDIAN AKAN MENGHIDUPKAN AKU (KEMBALI) (81), DAN YANG AMAT AKU INGINKAN AKAN MENGAMPUNI KESALAHANKU DI HARI KIAMAT (82)” (ASY- SYU’ARAA’: 75-82).

    Tauhid rububiyah dan uluhiyah kadang-kadang disebutkan secara bersamaan, maka ketika itu makna dan artinya berbeda, karena pada dasarnya ketika ada dua kalimat yang dilafadhkan secara bersama-sama dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini sama dalam firman Allah:

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3}

    “KATAKANLAH;” AKU BERLINDUNG KEPADA RABB (YANG MEMELIHARA DAN MENGUASAI) MANUSIA (1). RAJA MANUSIA (2). SESEMBAHAN MANUSIA (3)” (AN-NAAS: 1-3).

    Makna Rabb di dalam ayat ini adalah raja yang mengatur manusia, sedangkan makna Ilaah yaitu sesembahan satu-satunya yang punya hak untuk disembah. Kadang-kadang tauhid uluhiyah atau rububiyah disebutkan sendiri-sendiri tanpa bergandengan.

    Maka saat disebutkan salah satunya akan mencakup makna keduanya. Misalnya pada ucapan malaikat maut kepada mayit di alam kubur: “Siapa Rabbmu?”, yang artinya adalah: “Siapakah penciptamu dan sesembahanmu?” Hal ini juga sebagaimanan firman Allah:

    الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ

    “(YAITU) ORANG-ORANG YANG TELAH DIUSIR DARI KAMPUNG HALAMAN MEREKA TANPA ALASAN YANG BENAR, KECUALI KARENA MEREKA BERKATA: ”TUHAN (RABB) KAMI HANYALAH ALLAH” (AL-HAJJ: 40).

    قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا

    “KATAKANLAH:”APAKAH AKU AKAN MENCARI RABB SELAIN ALLAH” (AL-AN’AM: 164).

    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

    “SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG BERKATA “RABB KAMI IALAH ALLAH” LALU MEREKA ISTIQAMAH” (FUSHSHILAT: 30). PENYEBUTAN RUBUBIYAH DI DALAM AYAT-AYAT DI ATAS MEMPUNYAI MAKNA ULUHIYAH ( LIHAT AL IRSYAD ILAA SHAHIHIL I’TIQAD 27-28).


Top